Kulihat rumahku dari halaman depan. Sebuah rumah mungil di daerah Cigadung - Bandung.
Kawasan yang cukup jauh dari keramaian jalan raya, dimana diriku masih merasakan betapa dingin menusuk air di pagi hari.
Rumahku baru berumur tiga tahun, tapi apa daya beberapa kerusakan sudah mulai nampak. Beberapa bagian plafond sudah nampak menghitam, beberapa bahkan sudah terkelupas catnya.
Kebocoran atap rumah.
Kebocoran ini sudah terjadi semenjak rumah diserahkan oleh pengembang. Kebocoran yang terjadi karena kelalaian, (disengaja?) pengembang, desain rumah yang coba coba belajar menurut arsiteknya, ketika beliau kelepasan bebicara saat marah pada diriku.
Pada saat itu Bunda berulang kali menghubungi pengembang dan sang arsitek. Awalnya mereka melayani dengan baik semua komplain yang Bunda utarakan. Beberapa perbaikan dilakukan, namun tetap saja permasalahan bocor tetap ada, selang beberapa waktu mereka sulit untuk dihubungi, telepon yang tidak terangkat (sengaja?), hingga akhirnya nomor mereka hilang dari peredaran.
Pada saat itu diriku masih bekerja di perusahaan induk, dimana perusahaan pengembang itu berada. Tidak satupun dari mereka yang datang meminta maaf, melakukan perbaikan atas rumahku,
Bunda sudah melakukan pembayaran lunas atas pembangunan rumah tersebut, bahkan uang di kirimkan diluar waktu yang di janjikan. Dana yang harusnya dibayarkan per tahap, Dibayarkan dalam kurun waktu lebih cepat oleh Bunda.
Sesungguhnya rumahkupun ditinggalkan tanpa diselesaikan semua, sehingga Bunda kembali mengeluarkan dana hingga 60 juta lebih untuk menyelesaikan rumah tersebut.
Hingga kini, tiada maaf yang terucap dari sang pengembang maupun sang arsitek. Tanpa adanya perasaan malu
Semoga mereka sukses di pekerjaan mereka, tanpa melakukan perbuatan seperti ini kembali di kemudian hari
No comments:
Post a Comment